psikologi budaya 1




Kebudayaan yaitu  buah karya yang diciptakan oleh manusia 

yang bisa menjadi identitas suatu daerah atau warga  tertentu. 

Setiap kebudayaan selalu memiliki ciri khas lokalitas. Sehingga 

meski ada dua daerah yang memiliki kebudayaan yang sama, pasti 

tidak mungkin keseluruhannya sama dan akan memiliki ciri khusus 

yang membedakan keduanya.

Indonesia yaitu  negara yang kaya dengan kebudayaan yang 

unik. Setiap daerah selalu memiliki kebudayaan sendiri-sendiri 

dan menjadi identitas daerah ini . Begitu juga kota Jombang, 

kota ini terkenal dengan kota santri, namun disisi lain Jombang 

memiliki seni budaya yang tidak kalah menarik, yakni seni budaya 

ludruk atau warga  Jombang menyebutnya “besutan”. Namun 

demikian, sangat disayangkan jika seni budaya ludruk ini belum 

sepenuhnya menjadi identitas bagi kota Jombang.

Pulau jawa bagian timur, beberapa daerah memiliki seni budaya 

ludruk. Tetapi banyak orang yang kurang mengenal seni budaya 

ludruk yang berasal dari Jombang. Tujuan penulis dalam kajian 

fenomenologis ini yaitu  ingin memperkenalkan secara mendalam 

tentang seni kebudayaan ludruk yang berasal dari Jombang, agar 

nampak perbedaan antara seni kebudayaan ludruk yang berasal dari 

Jombang dengan seni kebudayaan yang berasal dari daerah lain.

Kerangka Kerja Teoritik

Budaya

Kebudayaan berasal dari kata Sanksekerta ”Buddhayah”, yaitu 

bentuk jamak dari Buddhi yang berarti “budi” atau akal. Arti ini  

dapat menjadi dasar sebuah definisi bahwa kebudayaan diartikan 

sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal (Koentjaraningrat, 

2002). 

Ki Hajar Dewantara (Supartono, 2004) mengartikan kebudayaan 

yaitu  buah budi manusia, yakni hasil perjuangan manusia ter-

hadap dua pengaruh kuat, alam dan zaman (warga ), yang 

me rupakan bukti kejayaan manusia untuk mengatasi berbagai 

rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya 

guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan, yang pada lahirnya 

bersifat tertib dan damai. 

Menurut A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn, dalam bukunya 

Culture, a Critical Review of Concepts and Definitions (1952 dalam 

Supartono, 2004) mengatakan bahwa kebudayaan yaitu  manifestasi 

atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas­luasnya. 

Unsur-unsur Kebudayaan

Koentjaraningrat (1996) membagi unsur kebudayaan menjadi 

tujuh yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem 

peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencahariaan hidup, 

sistem religi dan kesenian.

5

Wujud Kebudayaan

Menurut Koentjaraningrat dalam karyanya tentang kebudayaan, 

mentalitet, dan pembangunan  menyebutkan 

bahwa paling sedikitnya ada 3 wujud kebudayaan, yaitu :

1. Sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, 

norma-norma, peraturan, dan sebagainya.

2. Sebagai suatu kompleks aaktivitas kelakuan berpola dari 

manusia dalam warga .

3. Sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Sifat-sifat Kebudayaan

Selain memiliki unsur dan wujud, kebudayaan juga memiliki 

sifat. Sifat-sifat kebudayaan sangat banyak mengingat juga 

beragamnya kebudayaan kita. Secara umum, sifat kebudayaan ada 

tujuh (Supartono, 2004), yaitu :

1. Beraneka ragam.

Keanekaragaman kebudayaan itu disebabkan oleh beberapa 

faktor, antara lain sebab  manusia tidak memiliki struktur anatomi 

secara khusus pada tubuhnya sehingga harus menyesuaikan 

diri dengan lingkungannya. Oleh sebab  itu, kebudayaan yang 

diciptakan pun disesuaikan dengan kebutuhan hidupnya. Selain 

itu, keanekaragaman juga disebabkan oleh perbedaan kadar atau 

bobot dalam kontak budaya satu bangsa dengan bangsa lain. 

Sehingga pakaian, rumah, dan makanan bangsa Indonesia di daerah 

tropik jauh berbeda dengan yang diperlukan oleh bangsa Eskimo di 

daerah Kutub.

2. Didapat dan diteruskan secara sosial dengan pelajaran.

Penerusan kebudayaan dapat dilakukan secara horizontal 

dan vertikal. Penerusan secara horizontal dilakukan terhadap 

satu generasi dan biasanya secara lisan, sedangkan penerusan 

se cara vertikal dilakukan antar generasi dengan jalan melalui 

tulisan (literer). Dengan daya ingat yang tinggi, manusia mampu 

menyimpan pengalaman sendiri maupun yang diperoleh dari 

orang lain.

3. Dijabarkan dalam komponen-komponen.

Kebudayaan dijabarkan dalam komponen-komponen bio-

logi, psikologi dan sosiologi, dimana ketiga ilmu ini merupakan 

tiga komponen yang membentuk pribadi manusia. Secara 

biologis, manusia memiliki sifat-sifat yang diturunkan oleh 

orang tua (hereditas) yang diperoleh sewaktu dalam kandungan 

sebagai kodrat pertama (primary nature). Bersama dengan itu 

manusia juga memiliki sifat-sifat psikologi yang sebagian di-

perolehnya dari orangtuanya sebagai dasar atau bawaan. 

Setelah seorang bayi dilahirkan dan berkembang menjadi anak 

dalam alam kedua (secondary nature), terbentuklah pribadinya 

oleh lingkungan, khususnya melalui pendidikan. Manusia 

sebagai unsur warga  dalam lingkungan ikut serta dalam 

pem bentukan kebudayaan.

4. memiliki  struktur.

Cultural universal yang telah dikemukakan, unsur-unsur-

nya dapat dibagi dalam bagian-bagian kecil yang disebut traits 

complex, lalu terbagi dalam traits, dan terbagi lagi dalam items. 

Misalnya, sistem ekonomi dapat dibagi antara lain bertani.

Dalam bertani diperlukan bajak dan cangkul. Kedua 

alat ini  dapat dipisahkan lagi menjadi unsur yang ter-

kecil. Bagitu pula dengan kebudayaan nasional terdiri atas 

ke budayaan suku bangsa yang merupakan subkultur yang 

dapat dibagi lagi menurut daerah, agama, adat istiadat dan se-

bagainya.

5. memiliki  nilai.

Nilai kebudayaan (culture value) yaitu  relatif, bergantung 

pada siapa yang memberikan nilai, dan alat pengukur apa 

7

yang dipergunakan. Bangsa Timur misalnya, cenderung mem-

pergunakan ukuran rohani sebagai alat penilaiannya, sedang-

kan bangsa Barat dengan ukuran materi. 

6. Bersifat statis dan dinamis.

Kebudayaan dan warga  sebenarnya tidak mungkin 

statis 100%, sebab jika hal itu terjadi sebaliknya dikatakan mati 

saja. Kebudayaan dikatakan statis apabial suatu kebudayaan 

sangat sedikit perubahannya dalam tempo yang lamu. 

Sebaliknya, apabila kebudayaan cepat berubah dalam tempo 

singkat dikatakn kebudayaan itu dinamis.

7. Dapat dibagi dalam bidang atau aspek.

Kebudayaan dapat dibagi dalam bermacam-macam bidang 

atau aspek, diantaranya ada yang sifatnya rohani (spiritual) dan 

ada yang bersifat kebendaan (material culture), ada kebudayaan 

darat (terra)dan ada kebudayaan maritim (aqua culture) dan 

ada kebudayaan menurut daerah (kebudayaan suatu suku 

bangsa atau subsuku bangsa, areal culture). Semua bergantung 

pada siapa yang mau membedakannya dan untuk apa itu 

dilakukan.

Konflik

Konflik yaitu  hubungan antara dua pihak atau lebih (individu 

atau kelompok) yang memiliki atau yang merasa memilik sasaran-

sasaran yang tidak sejalan. Bahkan lebih dari itu, konflik berarti 

adanya oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang, 

kelompok-kelompok atau organisasi 

Konflik berkaitan dengan perbedaan, ketidaksesuaian, oposisi 

atau pertentangan. Konflik bisa terjadi kapan saja, terutama dalam 

warga  yang plural dengan beranekaragam kepentingan dan 

sasaran. Jadi konflik mengandaikan pluralitas dan perbedaan, dan 

konflik bersifat merusak. Konflik juga berkaitan dengan penanganan 

pluralitas. Konflik akan timbul kalau pluraritas tidak dipahami dan 

dikelola dengan baik.

Jenis Konflik

Konflik bisa diklasifikasikan berdasar  berdasrkan beberapa 

aspek tertentu 

1. Dilihat dari segi manfaatnya.

a) Koflik yang bermanfaat.

b) Konflik yang tidak bermanfaat.

2. Dilihat dari segi hasilnya.

a) Konflik Destruktif.

Konflik yang tidak bermanfaat sebab  menimbulkan 

kerugian bagi warga , individu, kelompok, organisasi 

yang terlibat didalamnya. Misalnya, rasa cemas atau stres 

mencekam yang sebenarnya tidak perlu.

b) Konflik Konstruktif.

Konflik yang bermanfaat sebab  bersifat membangun 

dan membawa manfaat dan keuntungan sebab  bersifat 

membangun, membawa manfaat dan keuntungan bagi 

mereka yang terlibat.

3. Dilihat dari segi tipe atau bentuk.

a) Konflik tugas.

Yakni konflik sebab  tuntutan tugas.

Misalnya, dalam perusahaan petugas penjualan 

dengan kredit hampir selalu berkonflik dengan petugas 

keuangan yang mengawas kredit. Dalam politik penguasa 

selalu konflik dengan oposisi.

b) Konflik hubungan.

Yakni konflik yang berfokus pada hubungan antar 

pribadi.

9

c) Konflik proses

Yakni konflik yang menyangkut silang pendapat 

mengenai proses yang harus ditempuh. Misalnya, konflik 

dalam mengerjakan satu pekerjaan.

4. Dilihat dari tingkatannya.

Konflik dapat berupa satu kontinuum yang mulai pada 

tingkat yang rendah (salah paham kecil) sampai paling tinggi 

(upaya terang-terangan menghancurkan pihak lain). 

Pola Konflik

Menurut Stephen Robbins (Ujan, 2009), konflik biasanya 

mengikuti satu pola teratur yang terdiri dari lima tahap, yakni 

adanya potensi oposisi, kognisi dan personalisasi, maksud, perilaku, 

dan  hasil. 

1. Adanya potensi oposisi

noPada tahap pertama ini hanya ada kondisi yang 

menciptakan peluang terjadinya konflik. Kondisi ini harus 

ada demi munculnya suatu konflik, walaupun kondisi ini 

tidak otomatis menimbulkan konflik. Ini bisa terjadi sebab  

masalah komunikasi, entah kurangnya komunikasi, gangguan 

komunikasi dan kondisi-kondisi yang merupakan menjadi 

tendensi terjadi konflik. Atau bisa juga sebab  masalah struktur 

dalam organisasi atau warga  dan bisa juga sebab  masalah 

perbedaan kepribadian. Sering kita bertemu dengan orang 

langsung tidak kita sukai.

2. Kognisi dan Personalisasi

Konflik baru terjadi pada tahap ini, dimana orang ter­

pengaruh oleh kondisi pertama yang kemudian ditingkatkan. 

Pada tahap ini orang atau pihak mulai sadar atau merasa adanya 

konflik. Tahap pertama tidak akan menjadi konflik kalau 

tidak dilanjutkan dengan proses kesadaran akan ada konflik. 

10 

Setiap orang punya tameng yang sangat kuat untuk menahan 

gempuran dari luar untuk menguasai sikap dan tingkah 

lakunya. Selama tameng itu berfungsi, konflik tidak terjadi. 

Konflik terjadi kalau gangguan dari luar itu berhasil menerobos 

tameng. Itu berarti bahwa orang itu sudah merasakan adanya 

konflik.

3. Maksud (Intensions)

Maksud (Intensions) ini berada diantara kesadaran ada nya 

konflik (tahap 2) dan perilaku (tahap 4). Setelah ke sadaran ada­

nya konflik, timbul maksud dibalik konflik itu, yang didukung 

oleh perilaku. Perilaku memang tidak langsung memperlihatkan 

maksud. sebab  itu maksud harus di cermati. Konflik sering 

menjadi intens sebab  pihak­pihak yang berkonflik tidak 

mengerti dengan baik maksud masing-masingnya.

Ada lima pokok maksud yang sering dikaitkan dengan 

kadar kooperatif dan kadar ketegasan, yakni :

a. Bersaing (tegas tapi tidak kooperatif)

b. Berkolaborasi (tegas dan kooperatif, semua pihak meng-

inginkan agar tujuan mereka tercapai)

c. Menghindar (tidak tegas dan tidak kooperatif)

d. Mengakomodasi (kooperatif dan tidak tegas)

e. Berkompromi (tengah-tengah, tingkat ketegasan dan tingkat 

kooperatif sama kadarnya, sebab  masing-masing pihak 

melepaskan sesuatu)

4. Perilaku

Konflik sudah disadari pada tahap kedua tapi baru tampak 

nyata pada tahap 4 yakni perilaku. Pada tahap ini, muncul 

sebuah pernyataan, tindakan, dan reaksi yang ditimbulkan 

oleh pihak­pihak yang berkonflik. Konflik itu bisa pada tingkat 

yang kecil (salah paham kecil) sampai paling tinggi (upaya 

terang-terangan menghancurkan pihak lain.

11

5. Hasil 

Konflik biasanya ada hasilnya, baik konstruktif ataupun 

dekons truktif. Konflik itu konstruktif jika menghasilkan krea­

tivitas, gagasan baru, kekuatan baru, dan perbaikan-perbaikan. 

Sedangkan dekonstruktif jika konflik itu justru membawa efek­

efek yang negatif. Konflik­konflik konstruktif harus ada kalau 

perlu diciptakan. Supaya konflik itu membawa hasil yang baik 

untuk kedua belah pihak.

Mengelola Konflik

Konflik bisa dihadapi dengan cara bersikap acuh tak acuh atau 

menekannya. Artinya, konflik akan berkembang secara tidak ter­

atur menjadi kekuatan yang konstruktif atau destruktif. Konflik 

bisa juga ditekan, sehingga dampak konflik negatif menurun. 

Tetapi itu hanya penyelesaian dipermukaan. Konflik bisa juga di­

selesaikan artinya konflik ditiadakan bersama dengan semua 

kondisi dan penyebab timbulnya konflik. Tetapi sebab  konflik juga 

dapat bermanfaat (konstruktif) maka konflik tidak selalu harus 

ditiadakan, melainkan bisa dikelola pada tingkat dan kadar tertentu 

agar membawa manfaat 

Mengelolah konflik bisa dengan melakukan berbagai 

pendekatan, diantaranya: pencegahan koflik, penyelesaian konflik, 

pengelolahan konflik., resolusi konflik, dan transformasi konflik 

Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. 

Penelitian psikologis fenomenologis bertujuan untuk mengklari fi­

kasi situasi yang dialami dalam kehidupan seseorang sehari-hari 

(Giorgi & Giorgi, 2008). Subyek penelitan memiliki kriteria pelaku 

yang ikut berperan dalam pelestarian kebudayaan ludruk, baik laki-

12 

laki maupun perempuan. Informan dalam penelitian ini yaitu  

Lurah daerah Pandanwangi (dimana daerah ini menjadi salah 

satu daerah pelestarian ludruk di kota Jombang), pemilik pagu-

yuban ludruk, Kepala dan Seksi Kebudayaan Jombang (2003-2010). 

jumlah informan penelitian 3 orang. Data dalam penelitian ini juga 

menggunakan dokumen tertulis dan tidak tertulis untuk mem-

berikan informasi tambahan.Teknik pengumpulan data dilakukan 

dengan observasi, wawancara dan dokumentasi.

Hasil

Ludruk yaitu  kesenian drama tradisional dari Jawa Timur, 

tepat nya dari kabupaten Jombang. Ludruk merupakan suatu drama 

tra disional rakyat yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang 

di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang 

ke hidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya 

yang ceritanya sangat luwes dan diselingi dengan lawakan dan di-

iringi dengan gamelan sebagai musik. Dialog atau monolog dalam 

ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa serta 

meng gunakan bahasa khas  Bahasa lugas 

yang dipakai  pada ludruk mudah diserap oleh kalangan non 

intelek (tukang becak, peronda, sopir angkutan umum).

Ludruk berbeda dengan ketoprak, dizaman dahulu cerita 

ketoprak mengambil dari cerita tentang istanah (Istana Centris) 

atau pemerintah (Wawancara Subyek 1, 10/05/2012). Sebagai akhir 

cerita, ketoprak selalu memihak kepada pemerintah, bertujuan untuk 

meninggikan hargat dan martabat pemerintah.

Ketoprak dipakai  sebagai alat pemerintah untuk menegakkan 

aturan yang dibuat oleh mereka dan bersifat merendahkan 

warga . Sedangkan ludruk dizaman dahulu sering dipakai  

warga  sebagai alat pemberontakan terhadap pemerintahan 

yang bersifat menindas kepada warga . Sedangkan dizaman 

sekarang, perbedaan antara ludruk dan dan ketoprak yaitu  dari 

13

cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah 

maupun dongeng), dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. 

Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) 

kalangan wong cilik. Pementasan ludruk selalu diawali dengan tari 

remo dan tarian lain yang melibatkan para tandak, yakni penari pria 

yang didandani seperti wanita 

Sejarah Terbentuknya Seni Kebudayaan Ludruk

Sebelumnya, seni kebudayaan ludruk bernama Lerok (1907). 

Di sebut lerok sebab  pemainnya setiap keluar (main) dengan mata 

plerak-plerok (melihat dengan tatapan tajam dan melihat beberapa 

penjuru) dan bergerak dengan udel (pusar) kelihatan 

Lerok ini ada bermula dari sepasang suami istri (tidak diketahui 

namanya) di musim sebelum panen, mereka menganggur dirumah 

dan tidak memiliki penghasilan. Mereka punya inisiatif untuk 

mengamen keliling tapi sebab  malu jika diketahui oleh tentangga 

sebab  sedang mengamen, akhirnya akhirnya menutupi wajah 

aslinya dengan make up, make up yang dipakai  yaitu  make up 

alami yakni tumbukan beras sebagai bedak dan tumbukan pandan 

sebagai lipstiknya.

Kostum yang dipakai  yaitu  baju yang terbuat dari karung 

goni (bago) dan mereka mengamen dengan lagu seperti sinden yang 

berisi tentang dialog sepasang suami isteri yang saling cemburu, 

dan ini menjadi rutinitas mereka saat  menunggu masa panen 

sawah. Lama­kelamaan akhirnya sepasang suami­isteri ini memiliki 

inisiatif untuk menjadikan kegiatan rutin mereka ini menjadi sebuah 

pementasan diatas panggung. Peragaan lerok ini memunculkan 

dua peraga dan menamakan diri dengan nama Besut sebagai suami, 

dan Rusmini sebagai isteri yang selalu cemburu kepada suaminya 

saat  sudah mulai tampil diatas panggung, kesenian ini sudah 

tidak dikenal sebagai lerok lagi melainkan dikenal dengan sebutan 

kesenian Besutan (1920-1955). Tapi saat  sudah menjadi besutan, 

terjadi beberapa penambahan dalam pementasan.

Kesenian besutan ini bertambah atu peraga, sehingga peraganya 

berjumlah tiga orang dan masing-masing peraga sudah memiliki 

nama tokoh dan karakter tokoh yang sudah tetap dan menjadi khas 

dari kesenian ludruk sendiri. Tiga peraga ini  bernama Besut, 

Rusmini dan Gondo Jamino. Pada seni besutan, karakter Besut dan 

Rusmini memiliki karakter yang sama dengan yang ada dikesenian 

lerok, hanya saja bertambah satu lakon yakni Gondo Jamino, dia yaitu  

paman dari Rusmini yang berperan sebagai penengah antara Besut 

dan Rusmini 

Sejak awal keberadaannya, seni besutan belum diiringi oleh 

alat musik, melainkan diiringi dengan musik mulut dengan meng-

gunakan nada cengko jombang­an. Cerita yang dibawakan yaitu  

tentang kehidupan rumah tangga, namun tetap membawa nilai­

nilai pelajaran yang baik untuk disampaikan kepada penonton 

Pada tahun 1955, besutan berubah nama menjadi ludruk. 

Saat berubah menjadi ludruk terjadi beberapa perubahan. Pemain 

dalam ludruk bertambah banyak menjadi 20 orang. Karakter tokoh 

Besut, Rusmini dan Gondo Jamina tidak lagi dipakai , dan tidak 

lagi membawakan cerita tentang rumahtangga, melainkan mem­

bawakan cerita tentang legenda dan fantasi (dongeng), namun 

demikian tetap menyelipkan nilai-nilai normatif yang disampaikan 

kepada penonton. Pementasan ludruk ini memakan waktu 24 jam 

dalam sekali tampil 

Pada pementasan ludruk, tokoh perempuan diperankan oleh 

laki-laki, ini terjadi sebab  pada zaman itu perempuan tidak boleh 

tampil diatas panggung dan hanya boleh membantu dibelakang 

panggung 

15

Setelah tahun 1975, ludruk mengalami perubahan musik, 

dari musik yang dimainkan dengan mulut menjadi seperangkat 

alat musik gamelan. Cerita yang dibawakan pun berkembang 

menjadi cerita kritikan kepada  pemerintah 

Pihak yang berperan dalam pelestarian seni kebudayaan 

ludruk ini

Pihak yang mengambil peran besar dalam pelestarian ludruk 

ini yaitu  pemerintah dan seniman ludruk. Pemerintah memberi 

fasilitas kepada warga  untuk mempelajari kesenian ludruk 

dan seniman berperan dalam memberi pembelajaran tentang 

ludruk. Sanggar-sanggar kesenian ludruk juga didirikan sebagai 

apre siasi bagi para seniman pemuda yang tertarik terhadap ludruk 

Usaha Pemerintah Jombang dalam Mempertahankan 

Seni Kebudayaan Ludruk

Usaha-usaha pemerintah Jombang yang telah dilakukan pada 

periode 2002 sampai 2010 diantaranya sebagai berikut:

1. Festival Ludruk

Pada tahun 2002 pemerintah kabupeten Jombang Bagian 

Kebudayaan menyelenggarakan Festival Ludruk yang khusus 

diadakan hanya untuk warga  kota Jombang. Festival 

ini diikuti oleh lebih dari 55 grup kesenian ludruk. Festival 

ini diselenggarakan hingga Festival Ludruk ke-II pada tahun 

2003, namun sebab  terjadi keluh kesah dari bebepara peserta 

festival.

Keluh kesah mereka yaitu  adanya apresiasi dalam bentuk 

materil kepada pada peserta festifal sekalipun mereka tidak 

me menangkan festifal ini . permintaan ini  menjadi 

16 

titik balik atas berhentinya festival ludruk yang ke-II saja 

pada tahun 2003 disebab kan pemerintah merasa keberatan 

dengan permintaan para peserta festival 

2. Revitalisasi

Beberapa revitalisasi telah dilakukan oleh pemerintah 

pada kesenian ludruk, seperti waktu penampilan ludruk dalam 

sekali pentas. Sebelumnya ludruk membutuhkan waktu 24 jam 

dalam sekali penampilan, sebab  dirasa terlalu lama dan di-

takutkan setelah sekali tampil pemain tidak bisa memberikan 

pemampilan kembali kerena lelah setelah tampil selama 24 

jam, maka kemudian waktu penampilan diperpendek menjadi 

2 jam dalam sekali penampilan. Namun demikian, waktu 2 

jam oleh beberapa penonton juga masih dirasa terlalu lama 

dan membuat dalam menyaksikan pertunjukan. Sehingga, 

waktu penampilan diperpendek kembali menjadi 1.5 jam, 

waktu sedemikian juga masih dirasa terlalu lama hingga pada 

akhirnya waktu penampilan ludruk pun menjadi 1 jam dalam 

sekali penampilan hingga sekarang 

3. Pentas Keliling

Setelah melakukan Festival khusus kota Jombang 

dan revitalisasi, usaha pemerintah tidak berhenti dalam 

melestarikan kesenian ludruk. Usaha selanjutnya yang 

dilakukanoleh pemerintah yaitu  mengadakan Pentas Keliling. 

Pentas ini diikuti oleh 17 grup dan semuanya dari kota Jombang 

4. Mendirikan PALAMBANG

Setelah dirasa Pentas Keliling kurang efektif sebagai cara 

untuk melestarikan kesenian ludruk, Pemerintah Kebudayaan 

dan Pariwisata mendirikan sebuah paguyuban yang diberi 

17

nama PALAMBANG (Paguyuban Ludruk Arek Jombang), 

paguyuban ini dipimpin oleh H. Syahid dan grup ludruk ini 

dikenal dengan nama “Budiwijaya”. Tujuan didirikannya 

paguyuban ini yaitu  agar seluruh seniman ludruk di Jombang 

bisa akur dan bersatu untuk melestarikan kesenian ini bersama-

sama 

Pada tahun pertama berdirinya PALAMBANG, paguyuban 

ini sudah berhasil merebut gelar juara di perlombaan ludruk 

yang diselenggarakan oleh pemerintah Yogyakarta. Pada 

awalnya, grup ludruk dari Jombang meraih juara 1 dan grup 

dari Yogyakarta meraih juara 2, namun sebab  permintaan 

dari tuan rumah untuk bertukar posisi, akhirnya saat  

pengumuman pemenang Jombang mendapat anugrah sebagai 

juara 2 dan Yogyakarta sebagai juara 1. Namun demikian, kota 

Jombang tetap menerima hadiah juara 1 

Pada saat pemilihan kepala desa (PILKADA), salah satu 

calon kepala daerah menarik simpati warga Jombang dengan 

cara mengajak grup ludruk asal PALAMBANG untuk ikut ber-

kampanye. Penampilan ludruk ini menggunakan dialog bahasa 

Indonesia, namun tidak meninggalkan pakem-pakem yang sudah 

menjadi ciri khas ludruk 

5. Festival Ludruk Se­Jawa TImur

Pada tahun 2008, Dinas Pariwisata Provinsi Surabaya 

mengadakan festival kesenian ludruk. Jika sebelumnya 

pemerintah Dinas Pariwisata Provinsi Surabaya menggelar 

festival ludruk se­ Jawa Timur di Malang dan Surabaya, namun 

untuk tahun 2008 secara istimewa Pemerintah Dinas Pariwisata 

Provinsi Surabaya menyelenggarakan festival ini di Jombang, 

festival ini sekaligus untuk mematenkan kesenian ludruk 

sebagai kesenian yang menjadi identitas dari kota Jombang. 

18 

Festival ini diikuti dari beberapa kota yang ada di Jawa Timur 

yakni: Kediri, Jember, Lamongan, Malang, Mojokerto, Madura, 

Jombang dan Surabaya 

Dinas Pendidikan Jawa Timur juga menggelar Festival 

Ludruk Pelajar Se­Jawa Timur pada hari Sabtu, 6 Oktober 2012 

di Surabaya. Festival ini diikuti lebih dari 13 peserta dari kota 

dan kabupaten di Jawa Timur, di antaranya Surabaya, Gresik, 

Mojokerto, Jombang, Malang, Probolinggo, Jember, Trenggalek, 

Bangkalan, dan Banyuwangi 

6. Pelatihan

Pada pelestarian kesenian ludruk, pemerintah tidak 

hanya melakukan pementasan-pementasan ludruk supaya 

masya rakat mengenal kesenian ini, disisi lain pemerintah 

juga meningkatkan kualitas penampilan para seniman ludruk 

dengan melakukan pelatihan. Pelatihan yang dilakukan yaitu  

pe latihan menjadi sutradara, manajemen dalam pementasan 

ludruk, serta mendatangkan beberapa narasumber yang ahli 

dalam kesenian ludruk ini.

Salah satu narasumber yang pernah didatangkan oleh 

pe merintah untuk memberi pengetahuan lebih mendalam 

tentang ludruk yaitu  Harjono W.S. yang datang dari Mojo-

kerto dan Hengky dari TVRI Surabaya 

Pelatihan ini bukan hanya untuk para seniman yang 

sudah menjadi pemain tetap dalam pementasan ludruk, namun 

pelatihan ini juga dilakukan dibeberapa sekolah SMA dan SMK 

yang ada di Jombang.

Bahkan salah satu SMK yang ada di daerah Ploso berhasil 

mem bentuk grup ludruk meskipun tidak semua personil yaitu  

siswa SMK. Siswa SMK hanya bermain sebagai sinden dan koor 

yang dilakukan siswa putri dan siswa putra sebagai lakonnya 

Selain pelatihan dalam segi penampilan, juga dilakukan 

pelatihan penulisan skenario kepada para anak muda terutama 

para siswa SMK dan SMA di beberapa daerah, seperti Ploso 

7. Memotivasi Anak Muda dalam Mengenal Seni Ludruk

Semua usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah tidak 

akan menuai hasil tanpa adanya semangat serta keinginan 

dari anak muda untuk belajar dan mendalami kesenian ludruk 

ini. Untuk itu pemerintah mengadakan beberapa perlombaan 

kesenian ludruk khusus untuk anak muda terutama para siswa 

SMA dan SMK.

Dan usaha ini berhasil meningkatkan minat anak muda 

untuk belajar dan ikut serta melestarikan kesenian ludruk ini. 

Bahkan di MAN 3 Ploso menjadikan kesenian ludruk menjadi 

ekstra kulikuler di Sekolah mereka 

Fakta-fakta Lain Tentang Ludruk

Berikut ini yaitu  beberapa fakta yang ada dalam kesenian 

ludruk diluar beberapa pembahasan diatas, diantaranya:

1. Meluasnya Ludruk ke Daerah Lain

Semakin banyaknya seniman ludruk di Jombang dirasakan 

oleh sebagian seniman dengan semakin menipisnya penghasilan 

mereka dalam jumlah pementasan dalam satu grup ludruk. 

Sehingga beberapa seniman memutuskan untuk meninggalkan 

Jombang. Para seniman ludruk melakukan hijrah ke beberapa 

kota seperti Lamongan, Kediri, Madura, Mojokerto, Jember 

dan Surabaya 

Hijrah ini  akhirnya membawa ludruk menjadi seni 

kebudayaan beberapa daerah kota yang ada di Jawa Timur 

). Namun sayangnya, dengan 

berjalanannya waktu justru ludruk lebih dikenal sebagai seni 

kebudayaan kota-kota lain selain Jombang, ini disebabkan 

banyak seniman lebih memilih melakukan penampilan dan 

atau berpentas diluar Jombang dengan alas an honor yang 

diberikan lebih besar daripada honor yang diterima di Kota 

Jombang.

Saat ini, ludruk lebih dikenal sebagai seni budaya dari 

Surabaya, sebab  di Kota Surabaya banyak terdapat seniman 

Jombang yang bermukim disana dan dibeberapa sekolah 

menengat atas membentuk ekstrakulikuler ludruk, hal ini 

berbeda dengan di Jombang yang pada dasarnya yaitu  

penggagas kesenian ludruk, dimana tidak ada sama sekali 

sekolah yang menjadikan ludruk sebagai ekstrakulikuler.

2. Perbedaan Ketoprak dan Ludruk.


Ketoprak Ludruk

Mengangkat kisah tentang istanah 

sentris.

Mengangkat kisah tentang 

rakyat sentris

Cerita selalu mengunggulkan pe-

merintah/keraton/istanah.

Cerita selalu mewakili

aspirasi warga  atau 

rakyat.

Alat untuk pemerintah dalam 

memberlakukan beberapa aturan-

aturan yang dibuat pemerintah.

Pemberontakan masyarkat 

terhadap kepemimpinan yang 

tidak Pro rakyat.

3. Citra Kesenian Ludruk.

Dimata warga  umum, citra kesenian ludruk cukup 

baik, namun tidak dimata warga  yang memiliki latar 

belakang religius (pesantren). Dimata pesantren, ludruk 

dikenal sebagai kesenian yang tidak baik, itu disebabkan dulu 

pementasan lundruk sering dimanfaatkan oleh beberapa pihak 

21

yang tidak baik sebagai ajang mabuk-mabukan dan perjudian 

saat berlangsungnya pementasan 

Itu sebabnya pesantren kurang bisa menerima menerima 

kebudayaan ludruk dan menganggap ludruk yaitu  sebuah 

kesenian yang kurang baik. Namun jika melihat kemasa 

silam, menyebarkan islam pada zaman walisongo salah satu 

medianya yaitu  dengan menggunakan ludruk 

Diskusi

Menurut hasil observasi yang telah diperoleh, ludruk ini sudah 

bisa dikategorikan sebagai kebudayaan, sebab  ludruk yang bergerak 

dibidang seni ini sudah sesuai dengan pengertian kebudayaan. 

Yakni manifestasi dari cara berpikir, sehingga menurutnya pola 

kebudayaan itu sangat luas sebab semua laku dan perbuatan ter-

cakup didalam perasaan, sebab  perasaan juga merupakan maksud 

dari pikiran.

Ludruk juga memenuhi beberapa unsur-unsur kebudayaan 

yakni:

1. bahasa, yang berupa bahasa jawa jombangan yang terdapat 

didalam lirik lagu kidungan.

2. terdapat sistem pengetahuan yang berupa informasi-informasi 

atau nilai-nilai norma yang disampaikan pemain dalam 

penampilannya.

3. adanya organisasi sosial yang berupa paguyuban ludruk arek 

jombang (PALAMBANG).

4. sistem mata pencahariaan hidup, ini terlihat dari banyaknya 

seniman ludruk yang lebih memilih hijrah ke daerah lain 

diluar kota Jombang, sebab  di kota Jombang sudah banyak 

sekali seniman ludruk yang muncul sehingga menjadikan 

22 

penghasilan seniman yang sudah lebih dulu tumbuh menjadi 

berkurang, sedangkan di luar kota Jombang masih sedikit 

bahkan bisa dikatakan belum ada seniman ludruk yang muncul 

sehingga mereka yang berhijrah ke daerah lain bisa mendapat 

penghasilan yang cukup besar.

5. adanya sistem religi, pada zaman walisongo ludruk dipakai 

sebagai alat penyampaian pendidikan agama. Hal itu tetap ter-

jadi hingga saat ini, pementasan ludruk tidak pernah lupa untuk 

menyisipkan pembelajaran religi didalam ceritanya, sebab  

ludruk ini memiliki fungsi utama sebagai alat berdakwah.

6. dan kesenian. Ini sudah jelas terlihat dari adanya alat musik 

gamelan yang memiliki unsur kesenian dan nyanyian lagu 

kidungan.

Analisa Konflik

Terjadinya konflik antara penduduk pesantren dan penduduk 

umum yang menggeluti kesenian ludruk. Konflik ini mengalami per­

geseran, namun hanya sampai pergeseran pada pergeseran kedua.

Pergeseran pertama yaitu  aliran tradisional yang mana pada 

awalnya ada anggapan bahwa konflik itu berkonotasi negatif. Konflik 

itu menghambat perkembangan ludruk dan keharmonisan antara 

warga  umum yang  menggeluti ludruk dengan warga  

pesantren. Konflik menimbul kekacauan, yakni adanya larangan 

santri pesantren untuk menonton penampilan ludruk.

Konflik ini dilihat sebagai hasil disfungsional sebagai akibat 

dari kurangnya komunikasi, kurangnya keterbukaan antara pihak 

pesantren dengan pihak seniman ludruk, dan juga kurang percaya 

yang muncul dari pihak penduduk pesantren terhadap seniman 

ludruk yang sebenarnya tidak memiliki unsur-unsur yang melanggar 

syari’at islam dalm segi cerita.

Hanya saja satu dilemma yang tidak bisa dipungkiri yakni 

23

peran perempuan yang diperankan oleh lelaki, namun ini terjadi 

sebab  memiliki alasan yang tidak kalah penting, yakni menjaga 

perempuan supaya tidak tampil didepan umum sebab  saat  

seorang perempuan tampil didepan umum maka itu melanggar 

norma yang berlaku, yang mana norma itu juga ada didalam syari’at 

islam. Konflik ini berlangsung kuat pada dasawarsa 1930­an dan 

1940-an. Dan sekarang sudah tidak terjadi sebab  tokoh perempuan 

sudah dibawakan oleh perempuan dan bukan lagi lelaki.

Pergeseran yang kedua yaitu  aliran human relations. Lebih 

lanjut muncul pemahaman bahwa konflik itu fakta yang tidak dapat 

dihindari. Ada anggapan bahwa konflik itu merupakan kejadian 

alamiah yang selalu terjadi dalam warga , organisasi, kelompok 

dan kehidupan bersama sosial mana pun. Konflik tidak dapat 

dihindari, sebab  masih banyak terjadi unsur-unsur pelanggaran 

syari’at islam didalam berlangsungnya penampilan yakni masih 

banyak terjadi mabuk-mabukan dan perjudian yang dilakukan 

oleh oknum­oknum yang tidak bertanggungjawab. Aliran ini 

berpengaruh pada dasawarsa 1940­an dan pertengahan 1970­an.

Jenis Konflik yang terjadi tergolong konflik yang tidak ber­

manfaat dari segi hasil, termasuk konflik destruktif, sebab  konflik­

nya menimbulkan kerugian bagi pihak seniman ludruk yang berupa 

kemunduran dan terjadi penghambatan dalam pelestarian kesenian 

ludruk ini sebab  warga  sudah menjadi mind setting yang 

bersifat negatif terhadap ludruk. Sehingga warga  sulit me-

nerima kesenian ini.

Dilihat dari segi tipe atau bentuk, konflik ini termasuk konflik 

proses sebab  konflik ini menyangkut silang pendapat mengenai 

proses atau cara penyampaian dakwah kepada warga  umum.

Dilihat dari tingkatannya, konflik ini terjadi pada tingkat yang 

sedang sebab  tidak sampai menjadi terganggunya hubungan 

individu antara kedua pihak.

Teori penyebab terjadinya konflik ini  yaitu  teori 

24 

negosiasi prinsip. Konflik disebabkan oleh posisi yang tidak selaras 

dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak­pihak yang 

mengalami konflik. Pada akhirnya terlihat perbedaan pemahaman 

dalam penyampaian dakwah kepada warga  umum yang 

sesungguhnya memiliki tujuan yang sama.

Mengelola Konflik

Mengelolah konflik ini akan kurang efisien jika konflik dihadapi 

dengan cara bersikap acuh tak acuh atau menekannya. Yakni 

konflik dibiarkan berkembang menjadi kekuatan yang konstruktif. 

Sehingga konflik mengalami penekanan, dan dampak konflik 

negatif menurun. Tetapi kemudian muncul kembali diwaktu­waktu 

tertentu.

Konflik bisa juga diselesaikan artinya konflik ditiadakan 

bersama dengan semua kondisi dan penyebab timbulnya konflik. 

Yakni dengan cara melakukan resolusi dan transformasi.

Pola Konflik yang terjadi, ada lima tahap dan ini sesuai dengan 

teori yang disampaikan oleh Stephen Robbins, yakni pertama, 

adanya potensi oposisi yang berupa tidak adanya musyawarah 

antara kedua belah pihak, dimana seharusnya pihak pesantren 

menanyakan apakah benar kabar yang menyebutkan bahwa ludruk 

itu tempat orang melakukan perjudian dan mabuk-mabukan atau 

pihak seniman ludruk menjelaskan bahwa ludruk bukan ajang 

untuk melakukan maksiat. Jika terjadi perjudian dan mabuk-

mabukkan didalam pementasan ludruk yang dilakukan penonton 

sesungguhnya itu diluar kuasa para pelaku pementasan.

Tahap selanjutnya yaitu  Kognisi dan Personalisasi. Yakni 

orang terpengaruh oleh kondisi pertama yang kemudian di-

tingkatkan. Banyak pihak yang akhirnya terpengaruh adanya 

isu yang sebenarnya hanya terjadi sekali, yang membuat pihak 

pesantren menilai negatif pada kesenian ludruk ini . Tahap 

25

yang selanjutnya yaitu  Maksud (Intensions), yaitu adanya konflik 

ini bermaksud supaya para santri tidak menonton ludruk dengan 

tujuan agar mereka tidak terseret kedalam hal-hal yang buruk yaitu 

perjudian dan mabuk-mabukkan.

Tahap yang keempat yaitu  perilaku, dimana akan muncul 

pernyataan, tindakan, dan reaksi yang ditimbulkan oleh pihak-

pihak yang berkonflik, pesantren, dengan melarang santrinya 

untuk menyaksikan ludruk. Konflik ini berada pada level paling 

tinggi sebab  berakibat menghancurkan pihak seniman ludruk. 

Tahap yang terakhir yaitu  hasil. Hasil yang dimunculkan dalam 

konflik ini yaitu  dekonstruktif yang membawa efek­efek yang 

negatif kepada pihak seniman ludruk dan akhirnya terhambat dalam 

pengembangan kesenian ludruk.

Kesimpulan

Seni kebudayaan ludruk yaitu  kesenian drama tradisional dari 

Jawa Timur, tepatnya dari Kabupaten jombang. Ludruk merupakan 

suatu drama tradisional rakyat yang diperagakan oleh sebuah grup 

kesenian yang digelarkan disebuah panggung dengan mengambil 

cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan 

dan lain sebagainya, dan cerita dipentaskan dengan sangat luwes, 

diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai 

musik. Ludruk juga dipakai  sebagaia alat penyampaian dakwah 

kepada warga  umum.

Sejarah terbentuknya seni kebudayaan ludruk pada awalnya 

bernama Lerok (1907), kemudian berubah menjadi Besutan (1920-

1955). Seiring perkembangannya, pada akhirnya berubah ditahun 

1955 menjadi ludruk. Hingga saat ini dikenal sebagai kesenian 

kebudayaan ludruk.

Sebagai seni, beberapa pihak seharusnya merasa memiliki 

26 

dan ikut berperan dalam pelestarian seni kebudayaan ludruk, 

mereka yaitu  pemerintah Jombang dengan cara memberi fasilitas 

kepada warga  dan melakukan usaha yang bisa meningkatkan 

minat warga  dengan cara melakukan perlombaan-lombaan, 

membangun atau membuat paguyuban atau sanggar ludruk.

Usaha pemerintah Jombang dalam mempertahankan seni 

kebudayaan ludruk diantaranya yaitu  pada periode 2002 sampai 

2010 dengan menyelenggarakan festival ludruk, revitalisasi terhadap 

kesenian ludruk, menyelenggarakan pentas keliling, pendirian 

PALAMBANG, Menyelenggarakan festival ludruk Se­Jawa Timur, 

mengadakan pelatihan kepada seniman-seniman muda ludruk 

dan kepada warga  yang berminat belajar kesenian ludruk ini, 

pemberian fasilitasdan memberikan dorongan kepada generasi 

muda dengan cara mengadakan perlombaan-perlombaan kesenian 

ludruk.

 27

SpOrtifitaS pemaiN uJuNG

(StuDi SOSiOLOGiS Di maLaNG)

Aisyah Dofishiyami dan Fuji Astutik

Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

e-mail: oupie.pune@yahoo.com dan astu_jifu@yahoo.com

Mukadimah

Sportif yaitu  sikap yang memperjuangkan fair play, keserasian 

dengan rekan tim dan lawan, perilaku etis dan integritas, fair play 

dan etika dalam menerima kemenangan atau kekalahan. Sportivitas 

merupakan aspirasi atau etos bahwa olahraga atau kegiatan akan 

dinikmati untuk kepentingan diri sendiri, dengan pertimbangan 

yang tepat untuk keadilan, etika, rasa hormat, dan rasa persekutuan 

dengan pesaing seseorang. Seorang pecundang merasa sakit saat  

mengacu pada orang yang tidak merasakan kekalahan yang baik, 

sedangkan olahraga yang baik berarti menjadi “pemenang yang 

baik” serta menjadi “pecundang yang baik”.

Sportif dapat dikonseptualisasikan sebagai karakteristik abadi 

dan relatif stabil atau disposisi seperti bahwa individu berbeda 

dalam cara mereka umumnya dan diharapkan untuk berperilaku 

dalam situasi olahraga. Secara umum, sportif mengacu pada 

kebajikan seperti kejujuran, keberanian pengendalian diri, dan 

ketekunan, dan telah dikaitkan dengan konsep-konsep interpersonal 

memperlakukan orang lain secara wajar, mempertahankan kontrol 

28 

diri jika berhadapan dengan orang lain, serta menghormati otoritas 

dan lawan. Seperti halnya olahraga, sportifitas juga perlu junjung 

tinggi dalam bersikap yang kompetitif, seperti dalam memainkan 

“seni bertarung” dalam melakukan ritual seni setempat.

Suara khas alunan musik Jawa Timuran terdengar kian keras, 

diatas panggung terlihat dua orang laki-laki bertelanjang dada 

dengan memang rotan dan saling memukul diantara keduanya. 

Namun apa yang kita lihat bukanlah suatu perkelahian akan tetapi 

yaitu  suatu aktraksi seni yang diberi nama Ujung. Para penonton 

berjubel memenuhi panggung yang menjadi arena pergulatan 

pemain Ujung. Atraksi ini sering kali di temui di Lumajang saat  

ada acara bersih desa ataupun untuk meramaikan pesta pernikahan 

dan acara sunatan.

Peserta yang ikut memeragakan kesenian ini selepas turun dari 

panggung, mereka yaitu  dua insan yang tidak saling mendendam 

sebab  apa yang meraka lakukan hanya sebuah permainan saja. 

Aturan permainan ini yaitu  peserta dengan luka pukulan paling 

sedikit akan menjadi pemenang.

Ujungan merupakan ritual tradisi yang menggabungkan tiga 

jenis seni, yaitu seni musik (Sampyong), seni tari-silat (Uncul), dan 

seni bela diri tongkat (Ujungan). Keistimewaan lain yang terdapat 

pada Tradisi Ujungan ialah terdapatnya sikap menjunjung tinggi 

nilai sportivitas, persaudaraan, rasa nasionalisme, dan semangat 

patriotisme sebagai generasi penerus bangsa.

Seiring dengan berjalannya waktu, tradisi Ujungan kini hanya 

berkembang sebagai seni pertunjukan hiburan biasa. Walaupun 

demikian, ketentuan-ketentuan peraturan permainan Ujungan 

masih tetap mengacu pada Ujungan zaman awal munculnya 

tradisi ini, baik rotan yang dipakai sebagai alat pukul maupun 

pertunjukan.

Rotan yang dipakai harus memiliki tingkat kelenturan yang 

cukup baik, dengan panjang sekitar 40-125 cm dan diameter sekitar 

 29

1,5 cm. Ketentuan rotan yang dipersyaratkan seperti ini bertujuan 

untuk mengurangi rasa pedih bila disabetkan ke tubuh. Sedangkan 

seorang harus memiliki keterampilan ilmu beladiri yang tinggi. Hal 

ini dimaksudkan agar apabila suatu saat salah satu pemain Ujungan 

tidak puas dengan hasil keputusan wasit dan mencoba untuk 

melawan wasit, maka wasit harus berani menerima tantangan itu.

Landasan Teori

Definisi Sikap

Mekanisme mental yang mengevaluasi, membentuk pandangan, 

mewarnai perasaan dan akan ikut menentukan kecenderungan 

perilaku individu terhadap manusia lainnya atau sesuatu yang 

sedang dihadapi oleh individu, bahkan terhadap diri individu itu 

sendiri disebut fenomena sikap. Fenomena sikap yang timbul tidak 

saja ditentukan oleh keadaan objek yang sedang dihadapi tetapi juga 

kaitannya dengan pengalaman-pengalaman masa lalu, oleh situasi 

di saat sekarang, dan oleh harapan-harapan untuk masa yang akan 

datang. Sikap manusia, atau untuk singkatnya disebut sikap, telah 

didefinisikan dalam berbagai versi oleh para ahli (Azwar, 2007).

Thurstone (Azwar, 2007) mendefinisikan sikap sebagai derajat 

afek positif atau afek negatif terhadap suatu objek psikologis. Sikap 

atau Attitude senantiasa diarahkan pada suatu hal, suatu objek. Tidak 

ada sikap tanpa adanya objek  LaPierre (Azwar, 

2007) mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi, 

atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri 

dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap yaitu  respon 

terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Definisi Petty & 

Cacioppo (Azwar, 2007) secara lengkap mengatakan sikap yaitu  

evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, 

orang lain, objek atau isu-isu.


sikap sebagai predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara 

konsisten dalam cara tertentu berkenaan dengan objek tertentu. 

 menyatakan bahwa 

sikap menentukan keajegan dan kekhasan perilaku seseorang dalam 

hubungannya dengan stimulus manusia atau kejadian-kejadian 

tertentu. Sikap merupakan suatu keadaan yang memungkinkan 

timbulnya suatu perbuatan atau tingkah laku.

Azwar (2007), menggolongkan definisi sikap dalam tiga 

kerangka pemikiran. Pertama, kerangka pemikiran yang diwakili 

oleh para ahli psikologi seperti Louis Thurstone, Rensis Likert 

dan Charles Osgood. Menurut mereka sikap yaitu  suatu bentuk 

evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek 

yaitu  perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun 

perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada 

objek ini .

Kedua, kerangka pemikiran ini diwakili oleh ahli seperti 

Chave, Bogardus, LaPierre, Mead dan Gordon Allport. Menurut 

kelompok pemikiran ini sikap merupakan semacam kesiapan untuk 

bereaksi terhadap suatu objek dengan caracara tertentu. Kesiapan 

yang dimaksud merupakan kecenderungan yang potensial untuk 

bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada 

suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.

Ketiga, kelompok pemikiran ini yaitu  kelompok yang 

berorientasi pada skema triadik (triadic schema). Menurut pemikiran 

ini suatu sikap merupakan konstelasi komponen kognitif, afektif dan 

konatif yang saling berinteraksi didalam memahami, merasakan dan 

berperilaku terhadap suatu objek. Jadi berdasar  definisi di atas, 

dapat disimpulkan bahwa sikap yaitu  kecenderungan individu 

untuk memahami, merasakan, bereaksi dan berperilaku terhadap 

suatu objek yang merupakan hasil dari interaksi komponen kognitif, 

afektif dan konatif.

Pengertian Sportifitas 

Sportivitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu  sikap 

adil (jujur) terhadap lawan; sikap bersedia mengakui keunggulan 

(kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) 

sendiri; kejujuran; kesportifan.

Sportivitas berasal dari kata “sport” dalam bahasa Inggris yang 

berarti olahraga dan sportif yang merupakan sifat jujur, ksatria atau 

gagah. Sportivitas merupakan salah satu aspek dari keadilan yang 

harus selalu dijunjung dalam setiap keadaan, tidak hanya dalam 

olahraga. 

Sportifitas juga  merupakan kata sifat yang berarti jujur dan 

kesatria atau gagah. Kata sportifitas yang sebagai kata benda 

memiliki  arti orang yang melakukan olahraga ini  (harus) 

memiliki kejujuran dan sikap ksatria dalam bertindak dan 

berperilaku saat berolahraga, seperti disiplin, mengikuti ketentuan 

dan peraturan yang telah ditetapkan atau yang telah disepakati 

bersama, terutama saat mengikuti suatu pertandiang atau 

perlombaan olahraga.

Selain itu juga sportif yaitu  sikap yang memperjuangkan 

fair play, keserasian dengan rekan tim dan lawan, perilaku etis 

dan integritas, fair play dan etika dalam menerima kemenangan 

atau kekalahan. Sportivitas merupakan aspirasi atau etos bahwa 

olahraga atau kegiatan akan dinikmati untuk kepentingan diri 

sendiri, dengan pertimbangan yang tepat untuk keadilan, etika, rasa 

hormat, dan rasa persekutuan dengan pesaing seseorang. Seorang 

pecundang merasa sakit saat  mengacu pada orang yang tidak 

merasakan kekalahan yang baik, sedangkan olahraga yang baik 

berarti menjadi “pemenang yang baik” serta menjadi “pecundang 

yang baik”.

Sportif dapat dikonseptualisasikan sebagai karakteristik abadi 

dan relatif stabil atau disposisi seperti bahwa individu berbeda dalam 

32 

cara mereka umumnya diharapkan untuk berperilaku dalam situasi 

olahraga. Secara umum, sportif mengacu pada kebajikan seperti 

kejujuran, keberanian pengendalian diri, dan ketekunan, dan telah 

dikaitkan dengan konsep-konsep interpersonal memperlakukan 

orang lain dan diperlakukan secara wajar, mempertahankan kontrol 

diri jika berhadapan dengan orang lain, dan menghormati otoritas 

dan lawan.

Pengertian Permainan Ujung

Permainan “ujung“ merupakan salah satu permainan 

tradisional yang ada di Sidoluhur. berdasar  data dari informan 

menyebutkan bahwa permainan ini berasal dari Trenggalek yang 

dulunya bergandengan dengan Reog. Permainan ini dulu sebagai 

tradisi untuk menurunkan hujan, namuan sekarang di Sidoluhur 

hanya menjadi permainan yang ditampilkan sebagai hiburan. Proses 

permainannya dilakukan secara berpasangan dengan lawannya. 

Permainan ini dipimpin oleh wasit  yang juga guru dari para 

pemain ini. Menggunakan iringan musik khas Jawa Timur pemain 

memecutkan lidinya ke lawan. Aturan mainnya yaitu  setiap orang 

harus memndapat pukulan yang sama dan tidak boleh ada yang 

curang dan dendam. Jika hal itu terjadi maka tidak diperbolehkan 

untuk bermain lagi.

Syarat untuk menjadi pemain “ujung ini yaitu  mau melakukan 

latihan rutin dan harus kuat menahan rasa sakit. Latihan ini berfungsi 

untuk meredam emosi saat bermain. Setelah melakukan permainan 

tentunya akan ada bekas luka. Bekas luka biasanya hanya diobati 

dengan obat alakadarnya dengan obat tradisional dari tumbuh-

tumbuhan disekitar rumah atau dengan minyak kayu putih. Luka 

ini  akan sembuh dalam waktu tiga hari.

 33

Metode Penelitian

Pendekatan penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut 

Bodgan dan Taylor (Santoso, 2011) mendefinisikan pendekatan 

kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data-

data deskriptif berupa kata-kata tulis atau lisan, dari orang-orang 

dan perilaku yang diamati. sebab  jenis penelitian ini merupakan 

penelitian kualitatif yang tidak menyandarkan diri pada kuesioner 

dan sebagainya, maka dilakukan pendekatan observasi, interview 

dan interpretasi.

Sedangkan Wiseman (Santoso, 2011) mendefinisikan penelitian 

kualitatif sebagai penelitian yang memiliki tujuan dokumentasi, 

identifikasi dan interpretasi mendalam terhadap pandangan dunia, 

nilai, makna, keyakinan dan karekteristik umum seorang atau 

kelompok warga  tentang peristiwa­peristiwa kehidupan, 

kegiatan-kegiatan ritual dan gejala-gejala khusus kemanusiaan 

lainnya. 

Sumber Data 

Teknik dalam pengambilan sumber data yang dipakai dalam 

penelitian ini yaitu  pengambilan data sampel kasus tipikal. 

Dimana kasus yang diambil yaitu  kasus yang dianggap mewakili 

kelompok normal dari fenomena yang diteliti. Patton dalam Kristi 

(2005) mengingatkan bahwa data yang dihasilkan tetap tidak di 

maksudkan untuk digeneralisasikan (dalam pengertian statistik), 

mengingat sampel tidak bersifat definitif (pasti) melainkan ilustratif 

(memberi gambaran tentang kelompok yang dianggap normal 

mewakili fenomena yang diteliti). 

Jadi yang menjadi sumber data dalam penelitian ini yaitu  

subjek yang mengalami kasus itu sendiri dan jumlahnya sedikit. 

Selain itu juga untuk penambahan data diambil dari wawancara 

34 

dengan keluarga dan warga  yang biasa menonton jalannya 

permainan.

Metode Pengumpulan Data

Adapun metode yang dipakai dalam penelitian kali ini yaitu  

sebagai berikut:

1. Wawancara, 

Menurut Soerjono (1986), wawancara merupakan 

pendekatan yang dapat juga difahami sebagai pendekatan 

untuk mendapatkan sebuah informasi dari seorang yang di 

ajak berkomunikasi. Penelitian kali ini hanya membawa catatan 

peting yang berisi pokok-pokok bahasan yang akan ditanyakan. 

Metode wawancara yang dipakai yaitu  tidak terstruktur 

yaitu mengikuti arus pembicaraan dari subjek. Akan tetapi ada 

pedoman­pedoman wawancara yang dipakai sebagai acuan. 

2. Observasi

Observasi merupakan suatu kegiatan penelitian dalam 

rangka mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah 

penelitian melalui proses pengamatan langsung lapangan. 

Peneliti akan secara langsung mengunjungi objek penelitian 

dan mencatat informasi-informasi yang didapat dari observasi 

untuk dipakai  sebagai data penunjang penyelesaian dari 

pertanyaan- peertanyaan yang ada dalam rumusan masalah.

Pada observasi kali ini observer (peneliti selaku orang 

yang melakukan observasi) menggunakan dimensi kombinasi, 

yaitu nonpartisipan - overt - alamiah. Dimana observer menjadi 

pengamat pasif dalam setting yang diamatnya, dalam arti tidak 

terlibat dalam aktifitas yang diamatinya ini . Observer 

melakukan pengamatan secara terbuka, dimana observee 

mengetahui mengetahui bahwa dirinya sedang diamati 

dalam kondisi dan situasi apa adanya atau alamiah tanpa ada 

pengkondisian atau setting tertentu.

 35

Dalam observasi ini observer menggunakan alat 

observasi yaitu catatan berkala, dimana dalam catatan berkala 

observer tidak mencatat macam-macam kejadian secara 

khusus, melainkan hanya pada waktu­waktu tertentu dengan 

menuliskan kesan-kesan umumnya.

3. Dokumentasi 

Tehnik pengumpulan data yang lain yaitu  dengan 

dokumentasi. Dimana dalam pengumpulan data saat ini 

menggunakan kamera hand phone dalam mengambil gambar 

dan merekam suara.

Analisis Data

Setelah data yang dibutuhkan terkumpul maka dilanjutkan 

dengan analisa data. Hal ini dimaksudkan untuk menginterpetasi 

data dari hasil penelitian yang sudah dimiliki untuk diolah, data 

yang terkumpul dalam penelitian ini akan dianalisa menggunakan 

metode yang sesuai dengan jenis dan sifat datanya. Analisa data ini 

tidak dilakukan secara bersamaan melainkan disesuaikan dengan 

perolehan dan berdasar  kenyataan obyektif, yaitu setiap data 

yang diperoleh langsung dianalisa. sebab  jenis penelitian yang 

dipakai  yaitu  penelitian kualitatif, maka data yang dicari 

dan dikumpulkan yaitu  data yang bersifat kualitatif, yang 

menggunakan prinsip membiarkan realitas itu berbicara.

Cara yang ditempuh yaitu  setelah data  terkumpul kemudian 

diolah dan dianalisa melalui pengurangan data. Data yang relevan 

ini  kemudian disajikan dalam kategori atau tema tertentu 

yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Peneliti kemudian 

menginterpretasikan data yang penting kemudian peneliti 

mengambil kesimpulan dari hasil pemahamannya

36 

Pengecekan keabsahan Data

Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya 

sebab  beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang 

dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan 

yaitu  wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan 

saat  dilakukan secara terbuka dan bahkan jika tanpa kontrol, dan 

sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi 

hasil akurasi penelitian. Oleh sebab  itu, dibutuhkan beberapa cara 

menentukan keabsahan data, yaitu:

1. Kredibilitas.

Apakah proses dan hasil penelitian dapat diterima atau 

dipercaya. Beberapa kriteria dalam menilai yaitu  lama 

penelitian, observasi yang detail, triangulasi, peer debriefing, 

analisis kasus negatif, membandingkan dengan hasil penelitian 

lain, dan member check.

Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian, 

yaitu:

a. Memperpanjang masa pengamatan memungkinkan 

peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan, 

bisa mempelajari kebudayaan dan dapat menguji informasi 

dari responden, dan untuk membangun kepercayaan para 

responden terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri 

peneliti sendiri.

b. Pengamatan yang terus menerus, untuk menemukan ciri-ciri 

dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan 

persoalan atau isu yang sedang diteliti, serta memusatkan 

diri pada hal-hal ini  secara rinci.

c. Triangulasi, pemeriksaan keabsahan data yang me-

manfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan 

pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data 

ini .

 37

d. Peer debriefing (membicarakannya dengan orang lain) yaitu 

mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh 

dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan­rekan sejawat.

e. Mengadakan member check, yaitu dengan menguji ke-

mungkinan dugaan-dugaan yang berbeda dan mengem-

bangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisis, 

dengan mengaplikasikannya pada data, serta dengan 

mengaju kan pertanyaan-pertanyaan tentang data.

2. Transferabilitas yaitu apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan 

pada situasi yang lain.

3. Dependability yaitu apakah hasil penelitian mengacu pada 

kekonsistenan peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk, 

dan menggunakan konsep-konsep saat  membuat interpretasi 

untuk men arik kesimpulan.

4. Konfirmabilitas yaitu apakah hasil penelitian dapat dibuktikan 

kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data 

yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan. 

Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian 

dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam 

penelitian dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif.

Paparan Data

AR yaitu  salah seorang pemain ujung. Keluarga AR termasuk 

anaknya juga termasuk dalam pemain ujung. AR sering sekali 

bermain diatas pentas dengan anaknya. AR mengenal kesenian 

ujung ini dari ayahnya yang berasal dari trenggalek menurut ayahnya 

permainan ujung ini dulu digandengkan dengan permainan Reog 

namun seiring berkembangnya zaman keduanya menjadi terpisah. 

Lebih lanjut AR menceritakan bahwa di trenggalek permainan ini 

menjadi sebuah ritual untuk meminta hujan, namun berbeda dengan 

38 

di lawang yang hanya menjadi sebuah hiburan saja Di Lawang 

sendiri ada delapan orang pemain ujung yang suah terlatih.

AR juga mengemukakan bahwa untuk bermain ujung  hnaya 

berbekal badan saja. Ditambah dengan  alat pukul yang dibuat dari 

lidi aren. Untuk mendapatkan lidi arennya  bisa mengambil disekitar 

rumah. Untuk menggunaan alat pukul ini ada yang berdeda di 

masing–masing daerah. Di Pasuruan dan lumajang menggunakan 

rotan.

Syarat menjadi pemain ujung menurut AR yaitu  mampu 

menahan sakit, mengendalikan emosi dan mengikuti latihan rutin 

untuk meminimalisir kecurangan dan rasa balas dendam.

Saat memulai permainan dipimpin oleh wasit  (yang juga 

merupakan pelatih). Menurut AR dalam permainan ini tidak ada 

yang menang dan yang kalah. jadi wasit yang bertugas disini hanya 

melihat sportifitas dari setiap pemain dan permainan dipastikan 

berjalan dengan imbang. AR juga menyebutkan jika pemain 

menyabet lawanya satu kali maka lawannya juga harus membalas 

satu kali, jadi masing–masing pemain harus merasakan pukulan 

yang sama. Misalnya satu kali ya sama- sama satu kali, kalau dua 

kali ya sama-sama dua kali. Kalau ada pemain yang melanggar 

ketentuan maka tidak boleh main lagi. Jadi menurut AR untuk 

pemain yang tidak bisa mengendalikan emosinya dan dia main 

curang maka tidak boleh lagi bermain. Untuk  tidak boleh nyabet 

dari dada ke atas, kalau dada ke bawah tidak apa –apa. jadi ada 

wilayah tertentu yang tidak bisa di pukul. Pada saat bermain hanya 

memikirkan kena saja.

AR juga memaparkan bagaimana caranya mengobati luka 

akibat pecutan lidi. Lukanya akan diobati dengan diolesi dengan 

minyak kayu putih. AR merasakan perih pengobatah hanya dalam 

semalam saja. Sembuhnya kurang lebih memerlukan waktu waktu 

tiga hari.

 39

Analisis Data

Pemaparan data diatas dapat diambil beberapa hal yang terkait 

dengan sikap sportif ynag terdiri dari, keberanian, menahan emosi 

dan sportif dalam bermain “ujung”. 

Adapun data yang bisa dianalisa dari data ini  yang 

pertama yaitu  keberanian AR dalam bermain merupakan salah 

satu cara untuk bisa bermain sampai akhir. Pada saat melakukan 

permainana, AR ataupun pemain lain diharapkan mampu untuk 

berani mengahadapi lawan dan berani juga untuk membalas lawan. 

Maka dari itu menurut AR tidak mudah untuk melakukan ini dan 

perlu latian yang sunggu-sungguh dan rutin untuk jadi pemain 

yang siap tempur. Untuk menumbuhkan keberanian inipun AR 

membutuhkan waktu yang lama untuk berlatih.

Poin yang kedua yaitu  menahan emosi marah saat bermain. 

Saat melakukan permainan memurut AR jangan sampai untuk 

tepancing emosi marah sebab  saat  marah yang akan terjadi yaitu  

terus bernafsu untuk membalah dan nantinya akan menimbulkan 

dendam. Marah saat bermain juga tidak baik sebab  jika marah 

dan diketahui oleh wasit maka akan dikeluarkan dari permainan 

dan tidak diperbolehkan bermain lagi. Lebih lanjut AR menyatakan 

bahwa pernah ada temannya yang terpancing emosinya saat 

bermain maka langsung di keluarkan dari permainan.

Yang terakhir yaitu  sikap sportif. Sikap Dmenurut Petty & 

Cacioppo (Azwar, 2007) yaitu  evaluasi umum yang dibuat manusia 

terhadap dirinya sendiri, orang lain, objek atau isu-isu. Sedangkan 

sportifias merupakan salah satu aspek dari keadilan yang harus 

selalu dijunjung dalam setiap keadaan, tidak hanya dalam olahraga. 

Jadi dalam permainan ini yang dijunjung tinggi yaitu  sikap sportif 

bagaimana reaksi saat mendapat pukulan dari lawan.

Menurut AR permainan “ujung” memiliki  aturan bahwa 

setiap orang harus mendapat pukulan yang sama, tidak boleh lebih 

40 

atau kurang. AR juga mengatakan bahwa pukulan dibatasi dari 

betis sampai dada selain daerah itu tidak boleh di pukul. Dari sini 

masing–masing pemain harus bersikap sportif dengan menjunjung 

tinggi nilai-nilai kejujuran keberanian dan keadilan. Tidak saling 

mencari celah untuk membalas dendam. Begitu juga setelah selesai 

permainan. Tidak boleh ada saling membalah sebab  pukulan 

cuma sebatas saat  dipanggung saja, saat  diluar panggung 

harus bersikap seperti biasanya seperti tidak pernah terjadi sesuatu 

apapun.

Pembahasan

Thurstone (Azwar, 2007) mendefinisikan sikap sebagai derajat 

afek positif atau afek negatif terhadap suatu objek psikologis. Sikap 

atau Attitude senantiasa diarahkan pada suatu hal, suatu objek. Tidak 

ada sikap tanpa adanya objek (Gerungan, 2004). LaPierre (Azwar, 

2007) mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi, 

atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri 

dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap yaitu  respon 

terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Definisi Petty & 

Cacioppo (Azwar, 2007) secara lengkap mengatakan sikap yaitu  

evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, 

orang lain, objek atau isu-isu.

Sikap yaitu  respon terhadap sebuah stimuli sebab  itu dalam 

permainan ini yang ditunjolkan adaah sikap tenang dan tidak 

terpancing dan bernafsu untuk lebih banyak melakukan pukulan 

kepada lawan. Sikap tenang ini perlu dijaga selama permainan agar 

tidak menjadi emosi marah ataupun dendam dan ingin membalas 

setelah permainan sudah usai. Akibat dari individu atau pemain 

yang tidak tenang maka dia harus rela dikeluarkan dari permainan 

dan tidak boleh mengikuti permainan lagi. 

 41

Untuk menumbuhkan sika tenang ini tidak bisa secara 

langsung ada, akan tetapi harus dengan latihan yang cukup lama 

dan berkesinambungan. Maka dari itu sarat untuk menjadi pemain 

harus pernah mengikuti latihan rutin. Dari hasil latihan rutin inilah 

lama-kelamaan akan menjadi terbiasa untuk tenang dan tidak 

gerusa-gerusu dalam permainan.

Sikap tenang ini kemudian akan berujung pada sikap sportif. 

Sportifitas merupakan kata sifat yang berarti jujur dan kesatria atau 

gagah. Dan kata sportifitas yang sebagai kata benda memiliki  

arti orang yang melakukan olahraga ini  (harus) memiliki 

kejujuran dan sikap kesatria dalam bertindak dan berperilaku saat 

berolahraga, seperti disiplin, mengikuti ketentuan dan peraturan 

yang telah ditetapkan atau yang telah disepakati bersama, terutama 

saat mengikuti suatu pertandiang atau perlombaan olahraga. 

Jika dikaitkan dalam permainan ini, sportifitas menjadi tuntutan 

bagi seorang pemain dalam permainan ini. Sikap sportif sudah 

diatur dalam aturan main dala pertandingan ini. Namun sekalipun 

sudah ada aturan bakunu ha ini tetap tidak bisa disepelekan oleh 

seorang pemain sebab  banyak kejadian yang membuktikan adanya 

pemain yang tidak “fair” dalam bermain pyaitu  sportifitas sendiri 

merupakan sikap yang memperjuangkan fair play, keserasian 

dengan rekan tim dan lawan, perilaku etis dan integritas, fair play 

dan etika dalam menerima kemenangan atau kekalahan. 

Berhubung di dalam permainan ini tidak ada yang menang 

atau yang kalah, sehingga sportifitas lebih ditonjolkan kepada 

bagaimana seorang pemain mampu mengikuti aturan dan jalannya 

permainan dengan baik. 

Permainan ini jelas sekali menunjukkan bahwa setiap pemain 

harus mendapat pukulan yang sama saat permainan. Selain itu juga 

siapapun lawannya harus tetap sama. Walaupun itu dalam satu 

keluarga antara anak sama bapak misalnya atau dengan saudara, 

42 

tidak ada aturan yang membedakan dengan pemain saat  dia 

bermain dengan orang lain.

Permainan “ujung“ merupakan salah satu permainan tradi-

sional yang ada di Sidoluhur. berdasar  data dari informan 

menye butkan bahwa permainan ini berasal dari Trenggalek yang 

dulu nya bergandengan dengan Reog. Permainan ini dulu sebagai 

tradisi untuk menurunkan hujan, namuan sekarang di Sidoluhur 

hanya menjadi permainan yang ditampilkan sebagai hiburan. Proses 

per mainannya dilakukan secara berpasangan dengan lawannya. 

Permainan ini dipimpin oleh wasit yang juga guru dari 

para pemain ini. Dengan diiringi musik khas jawa timur pemain 

memecutkan lidinya ke lawan. Aturan mainnya yaitu  setiap orang 

harus memndapat pukulan yang sama dan tidak boleh ada yang 

curang dan dendam. Jika hal itu terjadi maka tidak diperbolehkan 

untuk bermain lagi.

Sportif dapat dikonseptualisasikan sebagai karakteristik abadi 

dan relatif stabil atau disposisi seperti bahwa individu berbeda dalam 

cara mereka umumnya diharapkan untuk berperilaku dalam situasi 

olahraga. Secara umum, sportif mengacu pada kebajikan seperti 

kejujuran, keberanian pengendalian diri, dan ketekunan, dan telah 

dikaitkan dengan konsep-konsep interpersonal memperlakukan 

orang lain dan diperlakukan secara wajar, mempertahankan kontrol 

diri jika berhadapan dengan orang lain, dan menghormati otoritas 

dan lawan.

Jelas sekali pemain “ujung” diwajibkan untuk berani dan 

disiplin mengikuti perartuan sebagaimana yang disebutkan AR 

bahwa syarat utama menjadi pemain ujung selain dia mampu 

bermain dengan sikap tenang dan mengikuti latihan rutin yaitu  

harus berani . sementar itu keberaniaan merupakan salah satu dari 

unsur sportifitas.

Jadi dalam penelitian ini sportifitas dalam olahraga sama halnya 

dengan saat  dipakai dalam permainan “ujung” sesuai dengan 

 43

pengertiannya pula bahwa sportif tidak hanya dilakukan saat  

dalam olahraga agan tetapi juga dalam berbagai sudut kehidupan. 

Permainan ini juga dapat diambil pelajaran bahwa nilai sportif 

itu penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, agar 

tidak menumbuhkan rasa gelisah takut bahkan rasa ingin membalas 

dendam kepada orang lain atuapun lawan, rekan atau atasan dan 

bawahan sekalipun. 

Kesimpulan 

Pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa sportifitas dalam 

permainan “ujung” dilakukan dengan menaati aturan yang ada serta 

mengandalkan kedisiplinan, keberanian, keteladanan dan keadilan. 

Tidak memberikan porsi yang lebih dalam bermain serta mengikuti 

permainan secara fair sampai batas waktu yang di tentukan. Selain itu 

juga spotrifitas disini yaitu  saat  pemain mampu bersikap tenang 

selama permainan. Sportifitas dalam per mainan ini tidak jauh beda 

bahkan cenderung sama dengan sportifitas yang diberlakukan 

dalam olehraga.

44 

45Fenomena Tradisi Houl... ~ Badi’atul

feNOmeNa traDiSi hOuL

(Di DeSa BuNGah GreSik)

Badi’atul Husna

Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

e-mail: chusna_ituncus@yahoo.co.id 

Mukadimah

Menurut hasil survey dan verifikasi terahir Kementrian 

dan Perikanan (KKP) diketahui bahwa Indonesia yaitu  negara 

kepulauan yang kurang lebih terdiri dari 13.000 pulau dari Sabang 

sampai Merauke (Hasil Survey Terbaru Jumlah Pulau Indonesia, 2010). 

Maka dengan mudah kita akan menjumpai berbagai macam budaya 

dan tradisi yang berbeda dari satu pulau dengan pulau lain. Bahkan 

dari satu pulau seperti jawa, juga terdapat ribuan budaya dan tradisi 

yang hampir tidak bisa dihitung. Baik tradisi kuno seperti tarian, 

jaipong dan lainnya atau tradisi modern yang sekarang hampir 

menandingi tradisi lama.

Sejalan dengan perjalanan waktu, kehidupan manusia ber­

langsung dengan cara yang berbeda hingga m


Share:

POPULAR

TRANSLATE

Privacy Policy

viewer

Penulis

Foto saya
saya mahluk lain asli cuma hanya sekedar asal asalan berpura pura menjadi penulis kecil kecilan saja tanpa tujuan tanpa arti ini tulisan sederhana yang tidak menarik tidak bisa dipahami terlalu berbelit Belit

SEARCH